Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4

KH. Masduqi Ali Babakan Ciwaringin: Ulama Kharismatik, Penjaga Tradisi dan Perjuangan NU

 

Di sebuah desa yang tenang di Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, ada seorang ulama yang kelak menjadi sosok penting dalam sejarah salah satu pesantren di babakan ciwaringin dan Nahdlatul Ulama, beliau adalah KH. Masduqi Ali. Beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi keilmuan, tirakat, dan kehidupan sufistik.

KH. Masduqi Ali lahir pada tahun 1903 di sebuah rumah sederhana yang terletak di Blok Masjid, Gang Kelapa, Desa Asem Kecamatan Lemah Abang Kabupaten Cirebon. Tanggal dan bulan yang tepat, baik secara kalender Hijriyah maupun Masehi, kapan Masduqi bayi dilahirkan sangat sulit penulis dapatkan informasinya.

Di kampung yang nan-asri itu, dari kecil sampai remaja, Masduqi dibimbing oleh Sang Ayah yang bernama Kiai Ali, yang berasal dari Desa Kedung-Jumbleng Kecamatan Argasunya Cirebon dan ibu bernama Nyai Satiah, yang asli dari Desa Asem. Kiai Ali, di samping mengasuh pesantren warisan dari ayah serta kakeknya, juga mempunyai tanah garapan untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan bertani.

Dari kecil, KH. Masduqi Ali sudah terbiasa dengan suasana religius yang menekankan kesederhanaan, istiqomah, dan pengabdian kepada masyarakat.

Berikut kami kisahkan sekelumit tentang KH. Masduqi Ali mengutip dari beberapa sumber.

KELUARGA 

Ketika mesantren di Jombang, KH. Masduqi Ali mempunyai teman asal Cirebon bernama Sholihin, putra dari KH. Muhammad Amin Pesantren Babakan, salah satu Kiai berpengaruh di Cirebon. Karena kenal, tahu kualitas keilmuan, serta keakraban antar keduanya, Kiai Sholihin menawari sang adik bernama Munjiah untuk dinikahi sang kawan, singkat cerita menikahlah keduanya.

Menurut pengakuan Ny. Hj Munjiah, sendiri, beliau ketika menikah masih muda, yaitu berumur 16 tahun, sedangkan KH. Masduqi telah berumur 35 tahunan. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai mempunyai anak 11 anak, yaitu: Ahmad, Amin, Salim, Yahya, Subhi, Husni, Himayyah, Hamidah, Maghfuroh, Muhammad Sholeh, dan Shadaddy.

Menurut Sa’dullah Affandi, KH. Masduqi merupakan sosok ulama yang sangat disiplin, tegas dalam mengambil keputusan. Tulisan beliau yang indah membuat penulis semakin ingin mendalami ilmu agama, setiap usai berjamaah shalat subuh, beliau mengajari santrinya di serambi masjid dan selalu mengukir goresan kapurnya di papan tulis dengan tulisan arab indah bergaya khat naskhi.

Memang selain beliau, di pesantren Babakan ada beberapa kiai yang mempunyai tulisan berkaligrafi seperti KH. Tamam Kamali dengan tulisan khath riq’ah-nya, KH. Muntab yang fanatik dengan gaya diwani-nya, juga ada master kaligrafer, yakni Kiai Qasim Muqawi, guru khath yang menginspirasi bakat seni saya, di samping kiai-kiai di atas tadi.

Sa’dullah merasa sangat beruntung bisa belajar langsung ke KH. Masduqi Ali, dahulu ayahnya menitipkan ke beliau beralasan ingin tabarrukan (ngalap berkah), karena KH. Masduqi Ali saat itu (1984) adalah sesepuh Pesantren Babakan bersama KH. Fathoni Amin. KH. Masduqi merupakan sosok ulama yang alim, baik dalam disiplin ilmu fiqih, mantiq, balaghah dan nahwu.

Di lingkungan Pesantren Babakan, KH. Masduqi memang dikenal sosok yang dianggap “galak”, namun sebenarnya berhati lembut dan tegas. Sa’dullah lebih lanjut menuturkan contoh sifat lembut dan tegas dari KH. Masduqi Ali.

Ada satu hal yang menarik, ketika ayah Sa’dullah menitipkannya dan minta didoakan agar selama dia mondok supaya diberi kesabaran. Mendengar itu Kiai menjawab dengan nada tinggi: “kamu ini kaya Tuhan saja, gak boleh itu minta sabar, karena sabar itu sifat Allah yakni Asshobur”.

Bapak Sa’dullah terdiam sambil menunduk, baru kemudian kiai cerita yang lain, bahwa kiai kenal kakek Sa’dullah dan pernah ngaji sama kiai Masduqi. Padahal kakek Sa’dullah lebih sepuh, beliau mencontohkan bahwa orang dulu itu tawaddu’ mau ngaji sama yang lebih muda, walaupun belum tentu lebih alim. Dan belakangan Sa’dullah baru tahu kalau Kiai Masduqi Ali dengan kakeknya, sahabat santrinya.

Pendidikan

KH. Masduqi Ali belajar sekolah formal di sekolah desa atau Volkschool (Sekolah Rakyat) yang masa belajarnya hanya tiga tahun. Di sekolah itu, siswa hanya diajari membaca, menulis, berhitung. Setelah Masduqi Ali menyelesaikan sekolah Sekolah Rakyat (SR), kepada beberapa krabat sang ayah berucap akan memesantrenkan sang anak ke Jawa Timur.

Tapi, salah-satu keluarga berucap: “Mau mesantren? Nanti siapa yang akan mengelap ingusnya di sana?” Sebagai tanda kepedulian anggota keluarga bahwa Masduqi masih kecil untuk dipondokkan. Tetapi sang ayah tetap pada pendiriannya dan telah diputuskan Masduqi kecil di bawa untuk menimba ilmu ke Pondok Pesantren Gendangan Mojokerto yang dikelola oleh paman, KH. Harun.

Tapi oleh Kiai Harun, Masduqi malah diserahkan ke temannya semasa mesantren dahulu dan telah mempunyai Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, yaitu Hadrotusyekh KH. Hasyim Asy'ari.

Kenapa pamannya yang berasal Cirebon bisa tinggal di Jawa Timur. Ternyata di situ terdapat sebuah tanah yang telah diwakafkan dan diserahkan kepada KH. Hasyim. Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini mempersilahkan dan menawarkan bagi siapa saja boleh tinggal dan membangun bangunan di atas tanah tersebut, dengan catatan hanya untuk di buat lembaga pendidikan pesantren dan tidak selainnya.

Ternyata, tidak ada seorang pun yang sanggup dan mampu menempati tanah tersebut. Mengatasi kelangkaan tersebut, KH. Hasyim berucap: “ini harus orang Cirebon!”. Maka, atas restu dan do’a dari Mbah Yai Hasyim, Kiai Harun dari Cirebon-lah yang sanggup tinggal dan membangun juga mengelola pesantren di situ.

Mendirikan Pondok Pesantren

Semenjak KH. Masduqi Ali di Babakan, karena ada beberapa santri yang ikut mengaji, maka beliau berniat akan mendirikan pesantren yang lebih condong dengan apa yang diajarkan di pesantren dahulu, yaitu ilmu-ilmu keagamaan semisal Alqur'an, Hadits, Fiqih dan lain-lain. Oleh sebab itu, beliau soan kepada sang guru, di samping sebagai izin meminta restu, juga meminta nama untuk pesantren yang akan didirikan.

Maka berangkatlah beliau ke Jombang. Ketika sudah sampai dan sowan kepada KH. Hasyim Asy'ari, KH. Masduqi Ali mengemukakan usulan sebuah nama yang sudah ada di benak. Tiba-tiba Hadrotussyeh berkata: “Nah... itu, saya juga sudah ada gambaran jika nama yang akan saya kasih itu mirip sama dengan apa yang kamu ucapkan.” Setelah disetujui dan direstui, serta do'a sang guru, maka resmilah nama pesantren tersebut dengan nama: Miftahul Muta'allimin.

Adapun santri pada saat itu disamping berasal dari Jawa Barat, juga berasal dari Madura, Kudus, serta Pekalongan. (H. Mu'min -Santri Ndalem serta keponakan). Oleh karena itu, ketika lokasi pesantren berpindah untuk tujuan pengembangan, karena mempertimbangkan peristiwa tersebut, nama pesantren tidak diganti. Sekarang Pondok Pesantren Miftahul Muta'allimin mulai berbenah dan berkembang.

Disamping mempunyai asrama perempuan, yaitu Miftahul Muta'aallimat dan Madrasah Pesantren bernama MQL-N (Madrasah Qismu Al-Layaly Wa Annahri), juga anak cucunya mendirikan pesantren, yaitu: Al Hayat (KH. Yahya + Ny. Pu); Raudlatul Banat (Abah Hud bin Yahya + Hj. Himayyah); Al-Kautsar (Hj. Hamidah + KH. Muhaimin); Madinah Ar-Rasul (Habib Husain); Daar Al Zahra (Habib Abu Bakar); Al-Ghiyas (Habib Muhammad).

Di samping pesantren, juga terdapat pendidikan formal, yaitu MTs dan Aliyah Miftahul Muta'allimin, SMP, SMK Progresive MR serta Kampus STAIMA Babakan.

Pengasuh Presiden Ke-4

Kisah Masduqi di pesantren layaknya kisah seperti santri pada umumnya. Tapi ada sedikit cerita yang unik, dahuluAbdurrahman Wahid kecil, bisa dikatakan mempunyai perilaku yang tidak mudah diatur. Suatu hari sang ayah Gus Dur, KH. Wahid Hasyim, bercerita kepada Masduqi tentang kenakalan anaknya itu. KH. Wahid memohon pada Masduqi Ali untuk menemani Gus Dur dan sejak itulah Gus Dur kecil juga dibimbing oleh Masduqi Ali.

Menurut almarhum Kiai Bulqin (Mang Bulqin), murid Kiai Masduqi saat di Tebuireng yang kemudian tinggal di Jalan Jambrut (samping kantor PBNU), selain menjadi katibnya Mbah Hasyim, Kiai Masduqi juga sempat mengasuh Gus Dur saat masih kanak-kanak. Tak heran Gus Dur sendiri seringkali sowan ke Pesantren Babakan, untuk bertemu sang pengasuhnya tersebut.

Selain itu, saat KH. Ali Yafie mengundurkan diri dari Rais ‘Aam PBNU, Gus Dur yang saat itu menjadi Ketua umum Tanfidziah PBNU sempat mengusulkan nama KH. Masduqi untuk posisi Rais ‘Aam yang kosong tersebut, namun Allah punya kehendak lain, beliau keburu wafat pada tahun 1991.

Setahun sebelum pelaksanaan Munas Alim Ulama di Lampung (1992). Namun demikian, Gus Dur tetap meminta musyawirin (peserta Munas) bahwa penggantinya adalah wakil dari Jawa Barat, yang kemudian menyepakati KH. Ilyas Rukhiyat dari Pesantren Cipasung, yang saat itu menjadi Rais Syuriyah Jawa Barat untuk ditetapkan sebagai Rais ‘Aam menggantikan KH. Ali Yafie.

Teladan

Di kalangan masyarakat santri, figur KH. Masduqi Ali, secara umum kerap dipersepsikan masyarakat sebagai pribadi yang integratif dan merupakan cerminan tradisi keilmuan dan kepemimpinan, ‘alim, menguasai ilmu agama (tafaqquh fi al-din) dan mengedepankan penampilan perilaku berbudi yang patut diteladani umatnya. Semakin tinggi tingkat kealiman dan rasa tawadlu’ kiai akan semakin tinggi pula derajat penghormatan yang diberikan santri dan masyarakat.

Sebaliknya, derajat penghormatan umat kepada kiai akan berkurang seiring dengan minimnya penguasaan ilmu dan rendahnya rasa tawadlu’ pada dirinya, sehingga tampak tak berwibawa lagi dihadapan umatnya. Konsepsi kewibawaan KH. Masduqi Ali ini telah mendifinisikan fungsinya menjadi etika normatif dunia pesantren, yang oleh budayawan Mohamad Sobary disebut sebagai tipe kewibawaan tradisional.

Ciri pertamanya adalah, penggunaan kekuasaan pribadi yang dihimpun melalui peranan masa lampau dari seseorang sebagai penyedia, pelindung, pendidik, sumber nilai-nilai, dan status unggul dari mereka yang memiliki hubungan ketergantungan yang mapan dengan orang tersebut. Adapun indikasi kewibawaan yang lain sosok KH. Masduqi Ali, bahwa sumber-sumber kewibawaan tradisional tersebut terletak pada posisinya menjadi sesepuh (orang yang dituakan), sebagai sosok ayah, orang yang dapat dipercaya, orang yang dihargai, berkedudukan resmi, memiliki penguasaan ilmu pengetahuan agama, dan posisinya sebagai pemangku lembaga agama (pesantren).

Derajat kewibawaan-kharismatik dari KH. Masduqi Ali ini dalam bentuk penghormatan serta ketaatan massa yang bersifat total dan, bahkan menurut Bahasa Sobary, ada ciri taqlid buta, sehingga terhadap penilaian suatu perkara tertentu tak lagi perlu ada pertanyaan, gugatan atau diperdebatkan secara kritis.

Hal ini diperoleh KH. Masduqi Ali atas konsekuensi logis dari segi penguasaan yang mumpuni terhadap ilmu-ilmu agama juga diimbangi oleh pancaran budi pekerti mulia, penampakan akhlak al-karimah yang menyebabkan kiai, di mata umatnya, dipandang bukan semata teladan ilmu, melainkan juga sebagai teladan laku: suatu elemen keteladanan yang bersifat sangat fundamental.

Unsur berkah keteladanan yang membawa implikasi pada kecintaan, dan kepatuhan atau ketaatan mutlak kepada sang pemimpin kharismatik KH. Masduqi Ali sehingga dianggap memiliki karomah. Oleh karenanya, secara otomatis pada dirinya dinilai sebagai orang berotoritas. Adalah bukti nyata bahwa fenomena kewibawaan spiritual kharismatik KH. Masduqi Ali ternyata telah melintas batas rasionalitas.

KH. Masduqi Ali wafat pada tahun 1991. Kepemimpinan pesantren kemudian diteruskan oleh putranya, KH. Yahya Masduqi, yang melanjutkan perjuangan ayahnya. Hingga kini, Pesantren Miftahul Muta’allimin tetap berdiri kokoh sebagai pusat pendidikan Islam di Babakan Ciwaringin, melahirkan kader-kader NU yang berkhidmah di berbagai bidang.

Warisan KH. Masduqi Ali bukan hanya berupa pesantren, tetapi juga nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga kini. Pesantren sebagai benteng tradisi yang menekankan pentingnya pesantren sebagai pusat pendidikan akhlak dan ilmu agama. Filosofi beliau menekankan bahwa ilmu harus memberi manfaat bagi masyarakat luas. sementara khidmat kepada NU bukan sekedar ungkapan belaka, peran beliau sebagai sekretaris KH. Hasyim Asy’ari menunjukkan dedikasi penuh terhadap perjuangan NU.

Dengan kesederhanaan dan istiqomah Beliau dikenal sebagai sosok yang istiqomah dalam dakwah, tirakat, dan pengabdian kepada umat.

KH. Masduqi Ali Babakan Ciwaringin adalah sosok ulama yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, dakwah, dan perjuangan NU. Kisah hidupnya menjadi teladan bahwa perjuangan sejati lahir dari keikhlasan, tirakat, dan pengabdian tanpa pamrih.

Ada sebuah kata filosofi yang mashur dikalangan santri dan para alumni:

“Santri ora mesti dadi kiai kabeh, sing penting apa bae penggaweane, ilmu lan uripe akeh manfaate kanggo wong akeh.”

“Santri tidak semuanya harus menjadi kiai, yang penting apa pun pekerjaannya, ilmunya bermanfaat bagi masyarakat luas.”

Filosofi ini menegaskan bahwa tujuan utama pesantren bukanlah sekadar mencetak ulama, melainkan melahirkan manusia yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.

Ziarah ke makam beliau, seperti yang dilakukan MWC NU Widasari dalam rangka Harlah NU ke-100, bukan sekadar mengenang, tetapi juga meneguhkan kembali semangat perjuangan. NU berdiri di atas doa dan pengorbanan para ulama, dan KH. Masduqi Ali adalah salah satu pilar penting dalam sejarah itu.

Posting Komentar

0 Komentar