Di sebuah desa yang tenang di Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, ada seorang ulama yang kelak menjadi sosok penting dalam sejarah salah satu pesantren di babakan ciwaringin dan Nahdlatul Ulama, beliau adalah KH. Masduqi Ali. Beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi keilmuan, tirakat, dan kehidupan sufistik.
KH. Masduqi Ali lahir pada tahun 1903 di sebuah rumah sederhana yang terletak di Blok Masjid, Gang Kelapa, Desa Asem Kecamatan Lemah Abang Kabupaten Cirebon. Tanggal dan bulan yang tepat, baik secara kalender Hijriyah maupun Masehi, kapan Masduqi bayi dilahirkan sangat sulit penulis dapatkan informasinya.
Di kampung yang nan-asri itu, dari kecil sampai remaja, Masduqi dibimbing oleh Sang Ayah yang bernama Kiai Ali, yang berasal dari Desa Kedung-Jumbleng Kecamatan Argasunya Cirebon dan ibu bernama Nyai Satiah, yang asli dari Desa Asem. Kiai Ali, di samping mengasuh pesantren warisan dari ayah serta kakeknya, juga mempunyai tanah garapan untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan bertani.
Dari kecil, KH. Masduqi Ali sudah terbiasa dengan suasana religius yang menekankan kesederhanaan, istiqomah, dan pengabdian kepada masyarakat.
Berikut kami kisahkan sekelumit tentang KH. Masduqi Ali mengutip dari beberapa sumber.
KELUARGA
Ketika
mesantren di Jombang, KH. Masduqi Ali mempunyai teman asal Cirebon bernama
Sholihin, putra dari KH. Muhammad Amin Pesantren Babakan, salah satu Kiai
berpengaruh di Cirebon. Karena kenal, tahu kualitas keilmuan, serta keakraban
antar keduanya, Kiai Sholihin menawari sang adik bernama Munjiah untuk dinikahi
sang kawan, singkat cerita menikahlah keduanya.
Menurut
pengakuan Ny. Hj Munjiah, sendiri, beliau ketika menikah masih muda, yaitu
berumur 16 tahun, sedangkan KH. Masduqi telah berumur 35 tahunan. Dari
pernikahan tersebut, beliau dikaruniai mempunyai anak 11 anak, yaitu: Ahmad,
Amin, Salim, Yahya, Subhi, Husni, Himayyah, Hamidah, Maghfuroh, Muhammad
Sholeh, dan Shadaddy.
Menurut
Sa’dullah Affandi, KH. Masduqi merupakan sosok ulama yang sangat disiplin,
tegas dalam mengambil keputusan. Tulisan beliau yang indah membuat penulis
semakin ingin mendalami ilmu agama, setiap usai berjamaah shalat subuh,
beliau mengajari santrinya di serambi masjid dan selalu mengukir goresan
kapurnya di papan tulis dengan tulisan arab indah bergaya khat naskhi.
Memang selain
beliau, di pesantren Babakan ada beberapa kiai
yang mempunyai tulisan berkaligrafi seperti KH. Tamam Kamali dengan tulisan
khath riq’ah-nya, KH. Muntab yang fanatik dengan gaya diwani-nya, juga ada
master kaligrafer, yakni Kiai Qasim Muqawi, guru khath yang menginspirasi bakat
seni saya, di samping kiai-kiai di atas tadi.
Sa’dullah
merasa sangat beruntung bisa belajar langsung ke KH. Masduqi Ali, dahulu
ayahnya menitipkan ke beliau beralasan ingin tabarrukan (ngalap berkah), karena
KH. Masduqi Ali saat itu (1984) adalah sesepuh Pesantren Babakan bersama KH. Fathoni
Amin. KH. Masduqi merupakan sosok ulama yang alim, baik dalam disiplin ilmu
fiqih, mantiq, balaghah dan nahwu.
Di
lingkungan Pesantren Babakan, KH. Masduqi memang
dikenal sosok yang dianggap “galak”, namun sebenarnya berhati lembut dan tegas.
Sa’dullah lebih lanjut menuturkan contoh sifat lembut dan tegas dari KH.
Masduqi Ali.
Ada satu hal
yang menarik, ketika ayah Sa’dullah menitipkannya dan minta didoakan agar
selama dia mondok supaya diberi kesabaran. Mendengar itu Kiai menjawab dengan
nada tinggi: “kamu ini kaya Tuhan saja, gak boleh itu minta sabar, karena sabar
itu sifat Allah yakni Asshobur”.
Bapak Sa’dullah
terdiam sambil menunduk, baru kemudian kiai cerita yang lain, bahwa kiai kenal kakek
Sa’dullah dan pernah ngaji sama kiai Masduqi. Padahal kakek Sa’dullah lebih
sepuh, beliau mencontohkan bahwa orang dulu itu tawaddu’ mau ngaji sama yang
lebih muda, walaupun belum tentu lebih alim. Dan belakangan Sa’dullah baru tahu
kalau Kiai Masduqi Ali dengan kakeknya, sahabat santrinya.
Pendidikan
KH. Masduqi Ali
belajar sekolah formal di sekolah desa atau Volkschool (Sekolah Rakyat) yang
masa belajarnya hanya tiga tahun. Di sekolah itu, siswa hanya diajari membaca,
menulis, berhitung. Setelah Masduqi Ali menyelesaikan sekolah Sekolah Rakyat
(SR), kepada beberapa krabat sang ayah berucap akan memesantrenkan sang anak ke
Jawa Timur.
Tapi,
salah-satu keluarga berucap: “Mau mesantren? Nanti siapa yang akan mengelap
ingusnya di sana?” Sebagai tanda kepedulian anggota keluarga bahwa Masduqi
masih kecil untuk dipondokkan. Tetapi sang ayah tetap pada pendiriannya dan
telah diputuskan Masduqi kecil di bawa untuk menimba ilmu ke Pondok Pesantren
Gendangan Mojokerto yang dikelola oleh paman, KH. Harun.
Tapi oleh Kiai
Harun, Masduqi malah diserahkan ke temannya semasa mesantren dahulu dan telah
mempunyai Pondok Pesantren Tebuireng
Jombang, yaitu Hadrotusyekh KH. Hasyim Asy'ari.
Kenapa pamannya
yang berasal Cirebon bisa tinggal di Jawa Timur. Ternyata di situ terdapat
sebuah tanah yang telah diwakafkan dan diserahkan kepada KH. Hasyim. Pendiri
Nahdlatul Ulama (NU) ini mempersilahkan dan menawarkan bagi siapa saja boleh
tinggal dan membangun bangunan di atas tanah tersebut, dengan catatan hanya
untuk di buat lembaga pendidikan pesantren dan tidak selainnya.
Ternyata, tidak
ada seorang pun yang sanggup dan mampu menempati tanah tersebut. Mengatasi
kelangkaan tersebut, KH. Hasyim berucap:
“ini harus orang Cirebon!”. Maka, atas restu dan do’a dari Mbah Yai Hasyim,
Kiai Harun dari Cirebon-lah yang sanggup tinggal dan membangun juga mengelola
pesantren di situ.
Mendirikan Pondok Pesantren
Semenjak KH.
Masduqi Ali di Babakan, karena ada beberapa santri yang ikut mengaji, maka
beliau berniat akan mendirikan pesantren yang lebih condong dengan apa yang
diajarkan di pesantren dahulu, yaitu ilmu-ilmu keagamaan semisal Alqur'an,
Hadits, Fiqih dan lain-lain. Oleh sebab itu, beliau soan kepada sang guru, di
samping sebagai izin meminta restu, juga meminta nama untuk pesantren yang akan
didirikan.
Maka
berangkatlah beliau ke Jombang. Ketika sudah sampai dan sowan kepada KH. Hasyim Asy'ari,
KH. Masduqi Ali mengemukakan usulan sebuah nama yang sudah ada di benak.
Tiba-tiba Hadrotussyeh berkata: “Nah... itu, saya juga sudah ada gambaran jika
nama yang akan saya kasih itu mirip sama dengan apa yang kamu ucapkan.” Setelah
disetujui dan direstui, serta do'a sang guru, maka resmilah nama pesantren
tersebut dengan nama: Miftahul Muta'allimin.
Adapun santri
pada saat itu disamping berasal dari Jawa Barat, juga berasal dari Madura,
Kudus, serta Pekalongan. (H. Mu'min -Santri Ndalem serta keponakan). Oleh
karena itu, ketika lokasi pesantren berpindah untuk tujuan pengembangan, karena
mempertimbangkan peristiwa tersebut, nama pesantren tidak diganti. Sekarang
Pondok Pesantren Miftahul Muta'allimin mulai berbenah dan berkembang.
Disamping
mempunyai asrama perempuan, yaitu Miftahul Muta'aallimat dan Madrasah Pesantren
bernama MQL-N (Madrasah Qismu Al-Layaly Wa Annahri), juga anak cucunya mendirikan
pesantren, yaitu: Al Hayat (KH. Yahya + Ny. Pu); Raudlatul Banat (Abah Hud bin
Yahya + Hj. Himayyah); Al-Kautsar (Hj. Hamidah + KH. Muhaimin); Madinah
Ar-Rasul (Habib Husain); Daar Al Zahra (Habib Abu Bakar); Al-Ghiyas (Habib
Muhammad).
Di samping pesantren,
juga terdapat pendidikan formal, yaitu MTs dan Aliyah Miftahul Muta'allimin,
SMP, SMK Progresive MR serta Kampus STAIMA Babakan.
Pengasuh Presiden Ke-4
Kisah Masduqi
di pesantren layaknya kisah seperti santri pada umumnya. Tapi ada sedikit
cerita yang unik, dahuluAbdurrahman Wahid kecil, bisa
dikatakan mempunyai perilaku yang tidak mudah diatur. Suatu hari sang
ayah Gus Dur, KH. Wahid Hasyim, bercerita kepada Masduqi
tentang kenakalan anaknya itu. KH. Wahid memohon pada Masduqi Ali untuk
menemani Gus Dur dan sejak itulah Gus Dur kecil juga dibimbing oleh
Masduqi Ali.
Menurut
almarhum Kiai Bulqin (Mang Bulqin), murid Kiai Masduqi saat di Tebuireng yang kemudian tinggal di
Jalan Jambrut (samping kantor PBNU), selain menjadi katibnya Mbah Hasyim, Kiai
Masduqi juga sempat mengasuh Gus Dur saat masih kanak-kanak. Tak
heran Gus Dur sendiri seringkali sowan
ke Pesantren Babakan, untuk bertemu sang
pengasuhnya tersebut.
Selain itu,
saat KH. Ali Yafie mengundurkan
diri dari Rais ‘Aam PBNU, Gus Dur yang saat itu menjadi Ketua
umum Tanfidziah PBNU sempat mengusulkan nama KH. Masduqi untuk posisi Rais ‘Aam
yang kosong tersebut, namun Allah punya kehendak lain, beliau keburu wafat pada
tahun 1991.
Setahun sebelum
pelaksanaan Munas Alim Ulama di Lampung (1992). Namun demikian, Gus Dur tetap meminta musyawirin
(peserta Munas) bahwa penggantinya adalah wakil dari Jawa Barat, yang kemudian
menyepakati KH. Ilyas Rukhiyat dari Pesantren Cipasung, yang saat itu menjadi
Rais Syuriyah Jawa Barat untuk ditetapkan sebagai Rais ‘Aam menggantikan KH. Ali Yafie.
Teladan
Di kalangan
masyarakat santri, figur KH. Masduqi Ali, secara umum kerap dipersepsikan
masyarakat sebagai pribadi yang integratif dan merupakan cerminan tradisi
keilmuan dan kepemimpinan, ‘alim, menguasai ilmu agama (tafaqquh fi al-din)
dan mengedepankan penampilan perilaku berbudi yang patut diteladani umatnya.
Semakin tinggi tingkat kealiman dan rasa tawadlu’ kiai akan semakin tinggi pula
derajat penghormatan yang diberikan santri dan masyarakat.
Sebaliknya,
derajat penghormatan umat kepada kiai akan berkurang seiring dengan minimnya
penguasaan ilmu dan rendahnya rasa tawadlu’ pada dirinya, sehingga tampak tak
berwibawa lagi dihadapan umatnya. Konsepsi kewibawaan KH. Masduqi Ali ini telah
mendifinisikan fungsinya menjadi etika normatif dunia pesantren, yang oleh
budayawan Mohamad Sobary disebut sebagai tipe kewibawaan tradisional.
Ciri pertamanya
adalah, penggunaan kekuasaan pribadi yang dihimpun melalui peranan masa lampau
dari seseorang sebagai penyedia, pelindung, pendidik, sumber nilai-nilai, dan
status unggul dari mereka yang memiliki hubungan ketergantungan yang mapan
dengan orang tersebut. Adapun indikasi kewibawaan yang lain sosok KH. Masduqi
Ali, bahwa sumber-sumber kewibawaan tradisional tersebut terletak pada
posisinya menjadi sesepuh (orang yang dituakan), sebagai sosok ayah, orang yang
dapat dipercaya, orang yang dihargai, berkedudukan resmi, memiliki penguasaan
ilmu pengetahuan agama, dan posisinya sebagai pemangku lembaga agama (pesantren).
Derajat
kewibawaan-kharismatik dari KH. Masduqi Ali ini dalam bentuk penghormatan serta
ketaatan massa yang bersifat total dan, bahkan menurut Bahasa Sobary, ada ciri
taqlid buta, sehingga terhadap penilaian suatu perkara tertentu tak lagi perlu
ada pertanyaan, gugatan atau diperdebatkan secara kritis.
Hal ini
diperoleh KH. Masduqi Ali atas konsekuensi logis dari segi penguasaan yang
mumpuni terhadap ilmu-ilmu agama juga diimbangi oleh pancaran budi pekerti
mulia, penampakan akhlak al-karimah yang menyebabkan kiai, di mata umatnya,
dipandang bukan semata teladan ilmu, melainkan juga sebagai teladan laku: suatu
elemen keteladanan yang bersifat sangat fundamental.
Unsur berkah
keteladanan yang membawa implikasi pada kecintaan, dan kepatuhan atau ketaatan mutlak
kepada sang pemimpin kharismatik KH. Masduqi Ali sehingga dianggap memiliki
karomah. Oleh karenanya, secara otomatis pada dirinya dinilai sebagai orang
berotoritas. Adalah bukti nyata bahwa fenomena kewibawaan spiritual kharismatik
KH. Masduqi Ali ternyata telah melintas batas rasionalitas.
KH. Masduqi Ali wafat pada tahun 1991. Kepemimpinan pesantren kemudian diteruskan oleh putranya, KH. Yahya Masduqi, yang melanjutkan perjuangan ayahnya. Hingga kini, Pesantren Miftahul Muta’allimin tetap berdiri kokoh sebagai pusat pendidikan Islam di Babakan Ciwaringin, melahirkan kader-kader NU yang berkhidmah di berbagai bidang.
Warisan KH. Masduqi Ali bukan hanya berupa pesantren, tetapi juga nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga kini. Pesantren sebagai benteng tradisi yang menekankan pentingnya pesantren sebagai pusat pendidikan akhlak dan ilmu agama. Filosofi beliau menekankan bahwa ilmu harus memberi manfaat bagi masyarakat luas. sementara khidmat kepada NU bukan sekedar ungkapan belaka, peran beliau sebagai sekretaris KH. Hasyim Asy’ari menunjukkan dedikasi penuh terhadap perjuangan NU.
Dengan kesederhanaan dan istiqomah Beliau dikenal sebagai sosok yang istiqomah dalam dakwah, tirakat, dan pengabdian kepada umat.
KH. Masduqi Ali Babakan Ciwaringin adalah sosok ulama yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, dakwah, dan perjuangan NU. Kisah hidupnya menjadi teladan bahwa perjuangan sejati lahir dari keikhlasan, tirakat, dan pengabdian tanpa pamrih.
Ada sebuah kata filosofi yang mashur dikalangan santri dan para alumni:
“Santri ora mesti dadi kiai kabeh, sing penting apa bae penggaweane, ilmu lan uripe akeh manfaate kanggo wong akeh.”
“Santri tidak semuanya harus menjadi kiai, yang penting apa pun pekerjaannya, ilmunya bermanfaat bagi masyarakat luas.”
Filosofi ini menegaskan bahwa tujuan utama pesantren bukanlah sekadar mencetak ulama, melainkan melahirkan manusia yang bermanfaat bagi umat dan bangsa.
Ziarah ke makam beliau, seperti yang dilakukan MWC NU Widasari dalam rangka Harlah NU ke-100, bukan sekadar mengenang, tetapi juga meneguhkan kembali semangat perjuangan. NU berdiri di atas doa dan pengorbanan para ulama, dan KH. Masduqi Ali adalah salah satu pilar penting dalam sejarah itu.
0 Komentar
Silahkan tulis komentar di sini dengan sopan dan benar. No Link !!