KH. Abdul Wahid Hasyim: Dari Jombang Menuju Panggung Nasional
0
KH.Abdul Wahid Hasyim merupakan anak
kelima dari 10 orang anak dari pasanganKH. Hasyim Asyari dengan Nyai Nafiqah
binti Kyai Ilyas. KH. Wahid Hasyim lahir di Jombang, pada hari Jumat Legi
Rabiul Awal 1333 H, atau 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan
pengajian.
Silsilah KH. Abdul Wahid Hasyim dari
jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir. Nasab leluhurnya dimulai dari
KH. Hasyim Asyari Putra dari Halimah, Putra Layyinah, Putra Sihah, Putra Abdul
Jabar, Putra Ahmad, Putra Pangeran Sambo, Putra Pengeran Benowo, Putra Joko
Tingkir (Mas Karebet), Putra Prabu Brawijaya V (Lembupeteng). Sedangkan dari
pihak ibu, silsilah tersebut betemu di Sultan Brawijaya V.
Adapun kelima belas putra dan putri KH.
Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas di antaranya adalah KH. Abdul
Wahid Hasyim, Muhammad Ya’kub, Khoiriyah, Ubaidillah, Mashurroh, Abdul Hakim,
Abdul Qodir, Azzah, Muhammad Yusuf, Chotijah, Abdul Karim, Fatimah, Aisyah,
Hannah, dan Abdullah.
Riwayat Keluarga
KH. Abdul Wahid Hasyim menikah pada usia
sekitar 25 tahun dengan menikahi seorang gadis yang berumur 15 tahun, yaitu
Nyai Solichah binti KH. Bisri Syansuri seorang pendiri dan pemimpin Pesantren
Denanyar, Jombangserta salah satu pendiri Nahdlatul Ulama dan pernah juga
menjadi Rais 'Aam PBNU.
Dari pernikahannya ini KH. Abdul Wahid
Hasyim dikaruniai enam anak putra dan putri, di antaranya:
Tanggal 19 April 1953 merupakan hari
berkabung, waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahid Hasyim
bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat Nahdlatul Ulama (NU). Berkendara
menggunakan mobil Chevrolet miliknya.
Pada saat itu, KH. Wahid Hasyim duduk di
jok belakang bersama Argo Sutjipto dan putra sulungnya, Abdurrahman Wahid. Pada
waktu itu, sekitar Daerah Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan. Lalu
lintas di Jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai.
Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi KH. Abdul
Wahid Hasyim bannya mengalami selip dan sopirnya tidak bisa menguasai
kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu banyak iring-iringan mobil,
sedangkan dari arah depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti
begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan.
Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup
kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Saat terjadi
benturan, KH. Abdul Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang
sudah berhenti. Keduanya luka parah. KH. Abdul Wahid Hasyim terluka bagian
kening, mata serta pipi dan bagian lehernya. Sementara sang sopir dan Abdurrahman
tidak cidera sedikit pun. Sedangkan mobilnya hanya rusak bagian belakang.
Lokasi kejadian kecelakaan tersebut
memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datang sangat
terlambat. Baru pukul 16.00 datang mobil ambulan untuk mengangkut korban ke
Rumah Sakit Boromeus di Bandung.
Selama menunggu mobil ambulance KH. Abdul
Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto sudah tidak sadarkan diri, bahkan setibanya di
rumah sakit, kondisi beliau berdua masih belum bisa sadar. Hingga pada pukul
10.30 WIB hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat
Allah SWT, pada usia 39 tahun. Setelah beberapa jam kemudian, tepatnya pukul
18.00 WIB, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.
Atas wafatnya KH. Abdul Wahid Hasyim,
maka berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964
tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan
Kemerdekaan Nasional, karena mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia
yang semasa hidupnya beliau turut berjuang sampai kemerdekaan nusa dan bangsa.
Sanad Ilmu dan Pendidikan
KH. Abdul Wahid Hasyim kecil adalah sosok
anak yang mempunyai kelebihan dengan otak yang sangat cerdas. Di usianya yang
baru tujuh tahun, beliau sudah khatam Al-Qur’an. Beliau belajar Al-Qur’an
langsung kepada ayahnya (KH. Hasyim Asyari). Menginjak dewasa, KH. Abdul Wahid
Hasyim memulai pendidikanya dengan belajar di bangkuMadrasah Salafiyah di
Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, atau setelah selesai dari di bangku
madrasah, beliau diminta oleh ayahnya untuk membantu mengajar adik-adiknya dan
anak-anak seusianya.
Sebagai anak tokoh, KH. Abdul Wahid
Hasyim tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda.
Beliau lebih banyak belajar secara otodidak. Selain belajar di madrasah, beliau
juga banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa arab. KH. Abdul
Wahid Hasyim mendalami syair-syair berbahasa arab dan hafal di luar kepala,
selain menguasai maknanya dengan baik. Pada usia 13 tahun beliau melajutkan
pendidikannya ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Tapi
sayangnya, beliau hanya bertahan satu bulan. Dari Siwalan pindah ke Pondok
Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi beliau di pesantren ini, mondok dalam
waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja.
Dengan berpindah-pindah pondok dan
nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan KH. Abdul
Wahid Hasyim hanyalah keberkahan dari sang guru, bukan ilmunya. Soal ilmu,
demikian mungkin beliau berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara
apa saja. Tapi soal memperoleh berkah, adalah masalah lain, harus berhubungan
dengan kyai. Inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama dari KH. Wahid Hasyim
ketika itu.
Sepulang dari Lirboyo, KH. Abdul Wahid
Hasyim tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di
rumah. Sebab, menurut ayahnya, KH. Abdul Wahid Hasyim bisa menentukan sendiri
bagaimana harus belajar. Dan betul saja, selama berada di rumah semangat
belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak. Meskipun tidak
sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia
15 tahun beliau sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan
Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang
diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.
Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18
tahun, beliau kembali melanjutkan pendidikannya ke Makkah, di samping untuk
menunaikan rukun Islam kelima juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu
agama. Kepergiannya ke Makkah ditemani oleh saudara sepupunya, Muhammad Ilyas,
yang kelak menjadi Menteri Agama. Muhammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam
membimbing KH. Abdul Wahid Hasyim sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas.
Muhammad Ilyas dikenal fasih dalam bahasa arab, dan dialah yang mengajari KH.
Abdul Wahid Hasyim bahasa arab.
Di tanah suci beliau belajar selama dua
tahun, dengan pengalaman pendidikan tersebut, tampak beliau sebagai sosok yang
memiliki bakat intelektual yang matang. Beliau menguasai tiga bahasa asing,
yaitu bahasa arab, Inggris dan Belanda. Dengan bekal kemampuan tiga bahasa
tersebut, KH. Abdul Wahid Hasyim dapat mempelajari berbagai buku dari tiga
bahasa tersebut. Otodidak yang dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim memberikan
pengaruh signifikan bagi praktik dan kiprahnya dalam pendidikan dan pengajaran,
khususnya di pondok pesantren termasuk juga dalam politik.
Setelah kembali dari Makkah, KH. Abdul
Wahid Hasyim merasa perlu mengamalkan ilmunya dengan melakukan memodernisasi,
baik di bidang sosial, keagamaan, pendidikan dan politik. Pada usia 24 tahun
(1938), KH. Abdul Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama
kawan-kawannya, beliau gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaharuan
pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah. Baginya pembaharuan
hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah.
Sementara itu Guru-Guru beliau adalah
1. KH. Hasyim Asyari (Ayah) 2. KH. Abdul Karim (Lirboyo).
Kiprah di Nahdlatul Ulama (NU) dan
Kenegaraan
Pada tahun 1938 KH. Abdul Wahid Hasyim
banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU. KH. Abdul Wahid Hasyim
ditunjuk sebagai Sekretaris Pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi Anggota
Pengurus Cabang Jombang. Kemudian untuk selanjutnya KH. Abdul Wahid Hasyim
dipilih sebagai Anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini
kariernya terus meningkat sampai Ma’arif NU pada tahun 1938.
Setelah NU berubah menjadi partai
politik, beliau pun dipilih sebagai Ketua Biro Politik NU tahun 1950. Di
kalangan pesantren, Nahdlatul Ulama mencoba ikut memasuki trace baru
bersama-sama organisasi sosial modern lainnya, sepeti Muhammadiyah, NU juga membentuk
sebuah federasi politik bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) lebih
banyak didorong oleh rasa bersalah umat Islam setelah melihat konsolidasi
politik kaum nasionalis begitu kuat. Pada tahun 1939, ketika MIAI mengadakan
konferensi, KH. Abdul Wahid Hasyim terpilih sebagai ketua. Setahun kemudian ia
mengundurkan diri.
KH. Abdul Wahid Hasyim juga mempelopori
berdirinya Badan Propaganda Islam (BPI) yang anggota-anggotanya dikader untuk
terampil dan mahir berpidato di hadapan umum. Selain itu, KH. Abdul Wahid
Hasyim juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam.
Tahun 1944 beliau mendirikan Sekolah
Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhnya ditangani oleh KH. A Kahar Mudzakir.
Tahun berikutnya, 1945, KH. Abdul Wahid Hasyim aktif dalam dunia politik dan
memulai karir sebagai Ketua II Majelis Syura (Dewan Partai Masyumi). Ketua
umumnya adalah ayahnya sendiri. Sedangkan Ketua I dan Ketua II masing-masing Ki
Bagus Hadikusumo dan Mr. Kasman Singodimejo.
Menjadi Ketua Umum Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU)
Ketika Muktamar ke-19 di Palembang KH.
Abdul Wahid Hasyim dicalonkan sebagai Ketua Umum, namun beliau menolaknya, dan
mengusulkan agar KH. Masykur menempati jabatan sebagai Ketua Umum. Kemudian
atas penolakan KH. Abdul Wahid Hasyim untuk menduduki jabatan Ketua Umum, maka
terpilihlah KH. Masykur menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Namun berhubung KH. Masykur diangkat
menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Ali Arifin, maka NU menonaktifkan KH.
Masykur selaku Ketua Umum, dan dengan demikian maka KH. Abdul Wahid Hasyim
ditetapkan sebagai Ketua Umum. Di samping sebagai Ketua Umum PBNU, KH. Abdul
Wahid Hasyim menjabat Shumubucho (Kepala Jawatan Agama Pusat) yang merupakan
kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa
salah langkah menghadapi umat Islam.
Awalnya Shumubucho adalah merupakan kompensasi
yang diberikan kepada KH. Hasyim Asyari, mengingat usianya yang sudah uzur dan
beliau harus mengasuh pesanten sehingga tidak mungkin jika harus bolak-balik Jakarta-Jombang.
Karena kondisi ini, beliau mengusulkan
agar tugas sebagai Shumubucho diserahkan kepada KH. Abdul Wahid Hasyim,
putranya.
Menjadi Menteri Negara dan Menteri Agama
Dalam kabinet pertama yang dibentuk
Presiden Soekarnopada September 1945, Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri
Negara. Empat tahun kemudian, pada tanggal 20 Desember 1949, KH. Abdul Wahid
Hasyim diangkat kembali menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Hatta. Kemudian,
pada periode Kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman, KH. Abdul Wahid Hasyim tetap
memegang jabatan Menteri Agama.
Demikian juga, sebelum itu, dalam Kabinet
Syahrir pada tahun 1946, KH. Abdul Wahid Hasyim menjadi salah seorang
anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi Anggota BPKNIP.
Selama menjadi Menteri Agama, beliau
telah membentuk beberapa programnya, di antaranya:
1. Mendirikan Jam’iyah Al-Qurra’ wa
Al-Huffazh (Organisasi Qori dan Penghafal Al-Qur’an) di Jakarta.
2. Menetapkan tugas kewajiban Kementerian
Agama melalui Peraturan Pemerintah no. 8 tahun 1950.
3. Merumuskan Dasar-Dasar Peraturan
Perjalanan Haji Indonesia.
4. Menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi
Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam kementerian agama.
Pada tahun 1952 KH. Abdul Wahid Hasyim
memprakarsai berdirinya Liga Muslimin Indonesia, suatu badan federasi yang
anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII),
Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Darul Dakwah wa Al-Irsyad. Susunan
pengurusnya adalah KH. Abdul Wahid Hasyim sebagai Ketua, Abikusno Cokrosuyoso
sebagai Wakil Ketua I, dan H. Sirajuddin Abbas sebagai Wakil Ketua II.
Tokoh Muda BPUPKI
Karier KH. Abdul Wahid Hasyim dalam
pentas politik nasional terus melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa
jabatan beliau sandang. Diantaranya ketika Jepang membentuk badan yang bertugas
menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal dengan BPUPKI. KH.
Abdul Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Dari 62
orang yang ada, waktu itu, KH. Abdul Wahid Hasyim masih berusia 33 tahun.
Buah Pemikiran
Sebagai seorang santri, fokus utama
pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat
Islam. Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut KH. Abdul Wahid Hasyim,
dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren.
Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid
Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak
perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga
metode pengajarannya. Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan
pesantren, beliau membuat perencanaan yang matang. beliau tidak ingin gerakan
ini gagal di tengah jalan. Untuk itu, beliau mengadakan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Menggambarkan tujuan dengan
sejelas-jelasnya. 2. Menggambarkan cara mencapai tujuan
itu. 3. Memberikan keyakinan dan cara, bahwa
dengan sungguh-sungguh tujuan dapat dicapai.
Pada awalnya, tujuan pendidikan Islam
khususnya di lingkungan pesantren lebih berkosentrasi pada urusan ukhrawiyah
(akhirat), nyaris terlepas dari urusan duniawiyah (dunia). Dengan seperti itu,
pesantren didominasi oleh mata ajaran yang berkaitan dengan fiqih, tasawuf,
ritual-ritual sakral dan sebagainya. Meski tidak pernah mengenyam pedidikan
modern, wawasan berfikir KH. Abdul Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Wawasan ini
kemudian diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan
pendidikan.
Berkembangnya pendidikan madrasah di
Indonesia di awal abad ke-20, merupakan wujud dari upaya yang dilakukan oleh
Cendikiawan Muslim, termasuk KH. Wahid Hasyim, KH. Abdul Wahid Hasyim, yang
melihat bahwa lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam beberapa hal tidak
lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Apa yang dilakukan oleh KH.
Abdul Wahid Hasyim adalah merupakan inovasi baru bagi kalangan pesantren.
Pada saat itu, pelajaran umum masih
dianggap tabu bagi kalangan pesantren karena identik dengan penjajah. Kebencian
pesantren terhadap penjajah membuat pesantren mengharamkan semua yang berkaitan
dengannya, seperti halnya memakai pantolan, dasi dan topi, dan dalam konteks
luas pengetahuan umum. Dalam metode pengajaran, setelah kembalinya dari Mekkah
untuk belajar, KH. Abdul Wahid Hasyim mengusulkan perubahan metode pengajaran
kepada ayahnya.
Usulan itu antara lain agar sistem
bandongan diganti dengan sistem tutorial yang sistematis, dengan tujuan untuk
mengembangkan dalam kelas yang menggunakan metode tersebut santri datang hanya
mendengar, menulis catatan, dan menghafal mata pelajaran yang telah diberikan,
tidak ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berdikusi.
Secara singkat, menurut KH. Abdul Wahid
Hasyim, metode bandongan akan menciptakan kepastian dalam diri santri.
Perubahan metode pengajaran diimbangi pula dengan mendirikan perpustakaan. Hal
ini merupakan kemajuan luar biasa yang terjadi pada pesantren ketika itu.
Dengan hal tersebut KH. Abdul Wahid Hasyim mengharapkan terjadinya proses
belajar mengajar yang dialogis. Di mana posisi guru ditempatkan bukan lagi
sebagai satu-satunya sumber belajar.
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar di sini dengan sopan dan benar. No Link !!