MWC NU Widasari Gelar Halal Bihalal, Fokus pada Persatuan dan Peningkatan Pendidikan Mengaji
0
Tradisi halal bihalal merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya dan kehidupan beragama di Indonesia, terutama di kalangan umat Islam. Secara etimologis, "halal bihalal" berasal dari bahasa Arab yang berarti "benar dengan yang benar" atau secara harfiah "suci dengan yang suci". Konsep ini berakar pada ajaran Islam yang mengajarkan pentingnya saling memaafkan dan menyatukan hubungan sesama manusia, terutama setelah menyelesaikan ibadah bulan Ramadhan.
Secara sejarah, tradisi ini telah ada sejak masa awal penyebaran Islam di Nusantara. Pada awalnya, halal bihalal dilakukan secara sederhana antar keluarga dan tetangga, sebagai wujud penghormatan kepada orang tua dan sesama serta untuk membersihkan hati dari prasangka dan konflik. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini juga diadopsi oleh organisasi masyarakat dan keagamaan, termasuk NU, sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan memperkuat kesatuan dalam wadah organisasi.
Dalam lingkup Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, halal bihalal telah lama menjadi bagian dari kegiatan tahunan di berbagai tingkatan – mulai dari ranting, cabang, hingga pusat – sejak berdirinya NU pada tahun 1926. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga kohesi internal, menyelesaikan perbedaan pendapat, serta memperkuat rasa memiliki dalam Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU).
Di tingkat kecamatan seperti Widasari, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Widasari menggelar kegiatan Halal Bihalal pada Kamis (26/03/2026). Acara yang bertempat di Gedung KBIHU Makarimil Akhlaq ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan dan kesatuan dalam Keluarga Besar MWC NU Widasari sekaligus mencairkan suasana kekeluargaan di tengah jajaran organisasi dan elemen Nahdlatul Ulama (NU) se-Kecamatan Widasari.
Kegiatan Halal Bihalal ini digelar sebagai sayap persatuan organisasi, yang memiliki makna khusus karena menjadi wadah bagi para pengurus dan kaderisasi untuk kemajuan organisasi kedepan, serta memperkuat elemen lembaga, badan otonom dan ranting NU untuk bertemu secara langsung.
Sejarah pelaksanaan halal bihalal di MWC NU Widasari sendiri telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan pada tahun 2026 ini juga menjadi respons terhadap kebutuhan untuk menyatukan langkah dalam menghadapi tantangan pendidikan agama di wilayah setempat.
Hadir dalam acara tersebut seluruh jajaran pengurus MWC NU Widasari, pengurus lembaga, badan otonom (Banom) dan pengurus ranting NU se-Kecamatan Widasari.
Acara dibuka dengan kegiatan Tahlil bersama yang dilakukan untuk mendoakan para muassis NU dan pendiri NU di Kecamatan Widasari. Kegiatan ini menciptakan suasana yang khidmat dan khusuk di antara seluruh peserta.
Dalam Khutbah Iftitahnya, Rais Syuriyah NU Widasari KH. Mustahdi Abdullah menyampaikan bahwa meskipun telah banyak kegiatan yang dilaksanakan oleh MWC NU Widasari, masih terdapat permasalahan yang perlu diperhatikan, khususnya terkait pendidikan mengaji, karena menurutnya mengaji harus di tekankan mulai dari usia dini. "Masih banyak anak-anak yang belum mengerti huruf untuk belajar Al-Qur'an, dan kita pengurus NU harus bisa memberikan pengajaran yang terbaik untuk mereka karena saya sakin hampir semua pengurus NU memiliki santri, baik di madrasah ataupun di musholla" ujarnya.
KH. Mustahdi mengusulkan agar segera diadakan pertemuan bersama para guru madrasah untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut. Ia juga menekankan pentingnya penekanan pada pendidikan mengaji ke depan.
Selain itu, KH. Mustahdi Abdullah menyinggung terkait KBIH di kecamatan widasari, ia menjelaskan bahwa KBIHU NU merupakan badan otonom khusus yang didirikan oleh PCNU dengan ajaran yang berdasarkan kitab-kitab yang di ajarkan oleh para kiai-kiai NU, artinya jangan melihat perbedaan nama, karena semua itu sama saja yang di ajarkan oleh para jamaah haji berdasarkan kitab-kitab yang di ajarkan oleh kyai NU. "Semoga dengan adanya dua KBIHU di Widasari, keduanya dapat berjalan dengan baik demi kemaslahatan umat, khususnya dalam membimbing jamaah haji," harapnya.
Sementara itu, dalam sambutannya Ketua Tanfidziyah M. Abdul Jamal menekankan pentingnya kerja sama yang terstruktur dalam menjalankan program organisasi. "Dalam menjalankan program organisasi haruslah dilakukan secara sistemik dengan bersama-sama, dan semua kepengurusan harus fokus pada tujuan utama, namun tetap dalam kesatuan NU," tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya untuk mendidik dan mencetak generasi kedepan agar memahami keorganisasian, hal tersebut ia sampaikan mengingat sebentar lagi akan di selenggarakannya konferensi MWC NU Widasari. "regenerasi kepemimpinan perlu di perhatikan untuk menjalankan organisasi agar dapat di persiapkan mulai dari sekarang, kita siapkan agar keberlangsungan organisasi tetap berjalan, jangan sampai ketika nanti di perlukan kita saling tunjuk satu sama lain sehingga organisasi mandek tidak berjalan sama sekali" tegasnya.
Acara ditutup dengan doa oleh Mustasyar MWC NU Widasari KH. Ischaq Sholicin dan di lanjutkan dengan sesi saling bermaafan, di mana seluruh peserta dengan wajah ceria dan ikhlas saling meminta maaf satu sama lain, memperkuat rasa persaudaraan dan keharmonisan dalam Keluarga Besar NU Widasari. Acara kali ini bukan hanya sekadar acara bersilaturahmi, tetapi juga menjadi momentum untuk menyelaraskan visi dan misi antar jajaran pengurus dalam rangka mewujudkan kemaslahatan masyarakat.
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar di sini dengan sopan dan benar. No Link !!