Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3

KH. Zuhadi Abdullah Jejak Khidmah di MWC NU Widasari

 

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Widasari adalah struktur organisasi NU di tingkat kecamatan yang berperan penting dalam menggerakkan dakwah, pendidikan, serta kegiatan sosial kemasyarakatan di wilayah Widasari, Kabupaten Indramayu. Sebagai bagian dari jaringan NU, MWC NU Widasari menjadi wadah koordinasi antara pengurus ranting NU di desa-desa serta lembaga dan badan otonom NU di tingkat kecamatan.

Sejak berdiri, MWC NU Widasari mengalami berbagai periode kepemimpinan yang selalu menekankan khidmah (pengabdian) kepada umat, menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, serta memperkuat peran NU di tengah masyarakat.

KH. Zuhadi Abdullah lahir pada 15 Juli 1960 di Widasari, sebagai anak kedua dari 11 bersaudara pasangan H. Abdullah dan Ny. Sukenah. Sejak kecil, ia dididik dengan disiplin ketat oleh ayahnya, terutama dalam hal keagamaan. Selain belajar langsung dari ayahnya, ia juga berguru kepada KH. Ahmad Kholil, Rais Syuriyah MWC NU Widasari.

Perjalanan intelektualnya semakin matang ketika ia menimba ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Muta’allimin Babakan Ciwaringin Cirebon (1974–1980) di bawah bimbingan KH. Masduqi Ali. Setelah itu, ia melanjutkan belajar di Pesantren Gedongan Cirebon asuhan KH. Rohmatullah bin KH. Siradj, serta di Pesantren Benda Kerep Cirebon.

Di usia 25 tahun, KH. Zuhadi menikah dengan Hj. Sonah dan dikaruniai lima anak (dua laki-laki dan tiga perempuan). Kehidupan keluarga yang harmonis menjadi fondasi kuat bagi kiprahnya di masyarakat.

Kiprah di NU dan Pendidikan

KH. Zuhadi Abdullah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah MWC NU Widasari (1988–1993) dan Rais Syuriyah (2007–2017). Pada masa kepemimpinannya, meski NU masih menghadapi tekanan politik Orde Baru, MWC NU Widasari mulai menunjukkan kiprah nyata. Kehadiran NU di Widasari menjadi basis penting bagi penguatan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.

Selain itu, beliau juga aktif sebagai kepala madrasah di Widasari, mendidik santri dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Konsistensinya menjadikan beliau sosok panutan masyarakat, baik dalam lingkup sosial maupun keluarga.

Tidak hanya di NU, KH. Zuhadi juga berkiprah dalam politik kebangsaan sebagai Ketua Dewan Syuro PKB periode 2018–2023.

Orang yang khidmat di NU akan berkah dalam hidupnya

Salah satu bentuk pengabdian KH. Zuhadi yang monumental adalah wakaf tanah untuk sekretariat MWC NU Widasari dan Gedung KBIHU NU di Cideng. Wakaf ini menjadi amal jariyah yang terus memberi manfaat bagi NU dan masyarakat hingga akhir zaman.

Pendiri KBIHU NU Widasari

Selain kiprah di MWC NU, KH. Zuhadi Abdullah juga berperan besar dalam mendirikan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIHU) NU Widasari, bagian dari KBIHU NU Indramayu. Lembaga ini memberikan bimbingan manasik haji sesuai tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.

Di bawah kepemimpinan beliau, KBIHU NU Widasari berkembang pesat, melayani jamaah tidak hanya dari Widasari, tetapi juga dari Jatibarang, Tukdana, Bangodua, Cikedung, hingga Trisi. Pendekatan KH. Zuhadi menekankan keseimbangan antara aspek teknis ibadah dan pembinaan spiritual, sehingga jamaah memperoleh pengalaman haji yang komprehensif.

Pada 9 November 2023, KH. Zuhadi Abdullah wafat, meninggalkan duka mendalam bagi warga NU dan masyarakat luas. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar, namun warisan khidmah dan pengabdian yang ditinggalkan akan terus hidup dalam perjalanan NU Widasari.

Kepemimpinan KBIHU NU Widasari kemudian dilanjutkan oleh KH. Ischaq Sholichin hingga musim haji 2024, sebelum diteruskan oleh KH. Mustahdi Abdullah. Pergantian kepemimpinan ini menandai fase baru dalam perjalanan KBIHU NU Widasari, sekaligus menjadi momentum penting bagi keberlangsungan khidmah NU di bidang bimbingan ibadah haji.

Penutup

KH. Zuhadi Abdullah adalah sosok ulama karismatik yang mengabdikan hidupnya untuk NU dan masyarakat. Dari pendidikan, kepemimpinan, hingga wakaf tanah, beliau menunjukkan teladan khidmah yang abadi. Kehadirannya menjadi bagian penting dalam sejarah NU Widasari, dan jejak pengabdiannya akan terus dikenang sebagai inspirasi bagi generasi penerus.

Kisah ini di ambil dan bersumber dari KH. Mustahdi Abdullah dan H. Mafruhi Abdullah selaku keluarga beliau, Semoga Allah SWT Memberikan ampunan dan predikat Khusnul Khatimah kepada Almaghfurlah KH. Zuhadi Abdullah. Aamiin

1 Komentar

Silahkan tulis komentar di sini dengan sopan dan benar. No Link !!

  1. Punten min yg benar beliau di babakan mesantren di PP Miftahulmuta'allimin dg Pengasuhnya KH.Masduqi Ali.terimaksh

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar di sini dengan sopan dan benar. No Link !!

Lebih baru Lebih lama