Kisah Besar NU 1984 dan Diplomasi Sunyi Para Kiai Oleh: Supendi Samian Ketua STIDKI NU Indramayu
Memasuki dekade 1980-an, Nahdlatul Ulama (NU) berada dalam situasi yang tidak sederhana. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, NU tidak hanya berhadapan dengan dinamika umat, tetapi juga tekanan politik negara serta pergulatan orientasi internal. Sejak bergabung dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada era Orde Baru, NU terseret dalam arus politik praktis yang perlahan memunculkan ketegangan di tubuhnya sendiri.
Konflik yang terjadi bukan sekadar perbedaan pendapat biasa. Ia berkembang menjadi polarisasi antara kelompok yang ingin NU tetap aktif dalam politik praktis dan mereka yang mendorong NU kembali ke jati diri awalnya sebagai organisasi sosial-keagamaan, sebagaimana dirumuskan dalam Khittah 1926. Tekanan negara melalui kebijakan depolitisasi organisasi masyarakat semakin memperkeruh keadaan. NU menghadapi tekanan ganda: dari luar dan dari dalam.
Menjelang Muktamar NU 1984 di Situbondo, situasi bahkan mengarah pada kekhawatiran serius. NU terancam terbelah—bukan karena perbedaan akidah, tetapi karena arah perjuangan.
Namun, yang menarik dari fase ini adalah bentuk konfliknya yang tidak meledak ke ruang publik. Tidak ada perang pernyataan terbuka. Ketegangan justru terasa dalam forum-forum internal, komunikasi antar tokoh mulai renggang, dan kepercayaan perlahan menipis.
Para kiai sepuh menyadari, jika konflik ini dibiarkan, dampaknya akan sangat luas: melemahkan otoritas ulama, memecah basis pesantren, bahkan mengganggu stabilitas umat Islam Indonesia. Di titik inilah mereka mengambil keputusan penting: konflik ini tidak boleh diselesaikan dengan cara biasa.
Alih-alih mengandalkan mekanisme organisasi yang kaku, para kiai memilih jalan kultural pesantren. Tokoh sentral seperti KH As'ad Syamsul Arifin memahami bahwa konflik yang melibatkan ego dan kehormatan tidak bisa diselesaikan hanya dengan debat atau voting. Dibutuhkan ruang yang mampu menenangkan hati, meruntuhkan ego, dan membangun kembali kepercayaan.
Maka dipilihlah satu tradisi yang paling akrab dalam kehidupan NU: tahlilan.
Bagi sebagian orang, tahlilan mungkin hanya dipahami sebagai ritual doa untuk orang yang wafat. Namun dalam tradisi NU, ia memiliki makna sosial yang jauh lebih luas. Tahlilan adalah ruang perjumpaan tanpa sekat, menghadirkan kesetaraan, dan menciptakan suasana batin yang tenang.
Di dalamnya tidak ada podium, tidak ada interupsi, tidak ada ambisi tampil. Yang ada hanyalah dzikir, doa, dan kebersamaan. Justru dalam suasana seperti inilah, percakapan yang jujur dan mendalam bisa terjadi.
Pertemuan-pertemuan tahlilan kemudian berkembang menjadi ruang konsolidasi. Salah satu titik penting berlangsung di kediaman KH Hasyim Latief, tempat para kiai sepuh berkumpul dalam suasana penuh keakraban.
Tokoh-tokoh besar hadir dalam proses sunyi ini:
KH As'ad Syamsul Arifin sebagai penggerak lapangan, KH Achmad Siddiq sebagai pemikir konseptual, KH Ali Maksum dan KH Machrus Aly sebagai penjaga otoritas keilmuan, Abdurrahman Wahid sebagai jembatan generasi.
Dalam forum-forum yang sunyi itu, tidak ada keputusan formal yang dipaksakan. Yang terjadi adalah proses yang lebih dalam: saling memahami, saling mengalah, dan saling menguatkan.
Dari sinilah lahir kesepahaman yang kemudian dikenal sebagai Maklumat Keakraban sebuah konsensus moral yang menyatukan NU tanpa konflik terbuka.
Diplomasi tahlilan menjadi fondasi psikologis dan spiritual yang kuat. Ketika Muktamar NU 1984 digelar, suasana tidak lagi tegang.
Keputusan-keputusan besar pun lahir secara relatif damai: kembali ke Khittah 1926, menerima Pancasila sebagai asas, serta memilih kepemimpinan melalui aklamasi moral.
Semua itu bukan semata hasil debat, melainkan buah dari proses rekonsiliasi panjang yang dimulai dari tahlilan.
Di sinilah “Diplomasi Tahlilan” menemukan maknanya. Ia bukan sekadar istilah simbolik, tetapi strategi sosial, pendekatan budaya, sekaligus kearifan politik khas NU. Berbeda dengan diplomasi modern yang sering bersifat formal dan terbuka, diplomasi ini bekerja dalam diam, tetapi berdampak besar.
Sejarah NU tahun 1984 tidak hanya ditentukan oleh keputusan forum muktamar, tetapi oleh keikhlasan para kiai yang lebih dahulu menyelesaikan konflik dalam keheningan.
Tokoh-tokoh seperti KH As'ad Syamsul Arifin menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukan soal jabatan, tetapi keberanian menjaga persatuan. KH Achmad Siddiq membuktikan bahwa gagasan besar hanya bisa diterima jika dibangun di atas kepercayaan. Abdurrahman Wahid mengajarkan pentingnya keterbukaan lintas generasi. Sementara KH Ali Maksum dan KH Machrus Aly memberi teladan ketulusan dengan menolak jabatan demi keutuhan organisasi.
Apa yang terjadi dalam rangkaian tahlilan menjelang 1984 sejatinya adalah proses peradaban: konflik disaring menjadi musyawarah, perbedaan dilebur menjadi kesepahaman, dan ego ditundukkan oleh adab.
Di ruang tahlilan, semua kembali setara. Tidak ada dominasi kepentingan, tidak ada ambisi personal. Yang ada hanyalah kesadaran bersama bahwa NU harus dijaga, bukan diperebutkan.
Dampaknya sangat besar: NU terselamatkan dari perpecahan, kembali ke Khittah 1926 sebagai kekuatan moral umat, serta memperkuat hubungan harmonis antara Islam dan negara. Lebih dari itu, NU memberikan model resolusi konflik berbasis kearifan lokal—bahwa konflik ideologis tidak harus diselesaikan dengan dominasi, tetapi dengan kebijaksanaan.
Hari ini, dunia telah berubah. Komunikasi serba cepat, perbedaan mudah terekspos, dan konflik cepat membesar. Namun justru di tengah perubahan itu, nilai-nilai yang ditunjukkan para kiai 1984 menjadi semakin relevan: keikhlasan, kesabaran, keakraban, dan keberanian untuk mengalah demi maslahat yang lebih besar.
Pertanyaannya bukan lagi apakah konflik akan ada, tetapi apakah kita masih memiliki cara yang beradab untuk menyelesaikannya?
Sejarah telah mencatat, NU tidak diselamatkan oleh kekuatan politik atau strategi kekuasaan, melainkan oleh ketulusan para kiai dalam menjaga ukhuwah. Dari sana kita belajar satu prinsip besar: keakraban adalah fondasi kekuatan NU. Tanpa keakraban, perbedaan menjadi konflik. Dengan keakraban, perbedaan menjadi rahmat.
Akhirnya, kisah ini menyisakan pertanyaan yang tak lekang oleh waktu: jika dahulu para kiai mampu menyelesaikan konflik besar dengan duduk bersama dalam tahlilan, maka hari ini di tengah persoalan yang seringkali lebih kecil apakah kita masih memiliki kerendahan hati untuk melakukan hal yang sama?
Sebab sejatinya, NU akan selalu besar selama dijaga dengan adab, dan akan mulai rapuh ketika keakraban hanya tinggal cerita.
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar di sini dengan sopan dan benar. No Link !!